Jumat, 26 Juni 2020

Lomba Puisi Tentang Wanita dan Ibu

Sebetulnya ini pengalaman lama, jaman-jaman masih suka bermain sastra.
Sekitar bulan maret 2017, waktu iseng cari lomba sastra lewat instagram. Dan waktu itu nemu lomba dari akun @baitsemusim yang udah nggak diraguin lagi jumlah followersnya.
Kebetulan banget nemunya pas yang mudah, tapi semudah-mudahnya lomba ini bagi kaum sastrawan, justru waktu itu aku muter-muter mikirin puisi macam apa yang akan aku tulis, seperti apa judulnya nanti, berapa bait dan bergenre apakah nanti puisiku supaya bisa menangin giveaway.

Jadi, waktu itu lombanya bertajuk "Hari Wanita Indonesia" atau lebih tepatnya bertagar #HWI2017.
Nah, karena aku sendiri adalah tipe orang yang suka mendapat inspirasi secara mendadak dan let's do it, akhirnya aku kepikiran sosok wanita terhebatku. Siapa lagi kalau bukan Ibuku, Eomma, Eommonii, Uri Eomma. Dan tanpa pikir panjang, aku mulai bikin script puisinya, dan aku revisi untuk beberapa hari juga kalo aku nggak salah mengingatnya.

Uniknya, waktu itu aku nggak tahu hadiahnya apa, bahkan bener-bener nggak merhatiin hadiahnya apa. Yang terlintas dalam pikiran hanya bisa ikut berkarya, dan sedikit berharap bisa menjadi salah satu pemenangnya. Hal semacam ini, bagi seorang wanita tipe saya begini sudah bagaikan anugerah terindah. Mungkin kalau diibaratkan cerita negeri dongeng seperti kisah Aladdin dan lampu ajaibnya atau dongeng-dongeng semacamnya yang mendapatkan kebahagiaan hakiki dengan usaha dan jerih payah yang sebanding tentunya.

Antara yakin dan nggak yakin juga buat kirim karya puisinya. Dan akhirnya aku kirim juga, karena simple banget persyaratan lombanya itu. Jadi cuma kirim karya lewat Direct Message di IG, nggak ribet harus follow akun ini dan itu, apalagi mention temen ini dan itu, atau like sebanyak-banyaknya postingan tertentu, bahkan tidak pula mesti share postingan ke akun-akun follower. Dan ini adalah salah satu kriteria yang amat saya sukai dari lomba kali ini karena Gratiiiss Man. Lomba yang terkesan simple, hemat, cermat, dan to the point.

Dan, berikut ini adalah hasil coretan karya puisiku yang biasa saja, tapi alhamdulillah menang juga, Juara I waktu diumumin sama mimin. Kalo nggak salah waktu itu namanya Kak Ulum Bidari. Waktu info kalau juara itu, kita harus kirimkan ID Line. Dan beruntung saya adalah seorang pengguna Line setia sampai sekarang (Diketik pada Juni 2020).

Paham kan, isi tentang puisi yang aku tulis ini. Jadi ini tentang sosok perempuan, alias wanita tegar yang tetaplah mempunyai kodrat sebagai wanita yang butuh dibimbing, dihargai bahkan disakralkan jika perlu. Wanita itu kaum lemah, kadang manja, kadang perkasa, bahkan juga bisa jadi kaum raksasa. Ingat kan bagian terbaik dari orangtua adalah, Ibu,Ibu,Ibu barulah ayah. Ibunya 3x, ayahnya setelah Ibu. Itulah orangtua kita. Isi puisinya ya begitu saja intinya kalau dikulik oleh saya. Kalo sastrawan senior mungkin akan berpendapat dan berpandangan lain. It's Ok. Setiap orang dianugerahi dengan keputusan dan cara pandang yang berbeda-beda bukan?!!

Nah, berbicara tentang isinya cukup segitu aja. Terakhir, tentang hadiahnya. Hadiahnya itu lumayan banget bisa buat menyambung gaya hidup yang serba mahal, terutama harga kuota internet. Karena hadiahnya tidak jauh-jauh amat dari dunia digital. Yakni, pulsa sebesar seratus ribu rupiah. Tentunya bagi kalangan saya yang notabene-nya adalah mahasiswa yang berstatus karyawan di sebuah perusahaan yang jarak kampus dengan jarak tempat kerja bisa dibilang berjauhan atau bahasa kerennya long distance, ini adalah hadiah yang sangat bermanfaat. Alih-alih harga paket internet kala itu masih lumayan murah, sehingga bisa saya bagi-bagi ke Ibu juga sebagai sosok yang menginspirasi puisi ini. 
Kalo nggak salah waktu itu juga mau diadaain sertifikat, tapi ngga jadi. But, It's OK while your's got an appreciation.
Terimakasih #HWI2017, Semoga masih banyak lomba-lomba gratis yang tidak membuat persyaratan lomba tidak menjadi sulit. 

#lombapuisi #hariwanitaindonesia


Tidak ada komentar:

Posting Komentar